Jumat, 15 April 2011

PEMETAAN USED CASE

Kasus 1

-Phobia Hewan yang biasa menempel di dinding (Salah satunya cecak)-

A.

A. 1. Case Name : Pendekatan (Rapport)

2. Pre Conditional : -

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Menyapa Klien :

a. Memberi ucapan salam (Selamat Pagi/siang/sore)

b. Bersalaman

c. Menanyakan kabar

2) Menanyakan data diri subjek :

a. Siapa nama Anda?

b. Dimana Anda tinggal?

c. Dengan siapa Anda tinggal saat ini?

d. Anda anak keberapa dari berapa saudara?

e. Apa pekerjaan Anda sehari-hari?

f. Apa hobi Anda?

5. Post Condition : Menggali informasi klien

6. Action who gets benefit :

1). Klien (mendapatkan kenyamanan)

2) Terapis ( mendapatkan gambaran awal)

B.

B. 1. Case Name : Menggali informasi klien

2. Pre Conditional : Pendekatan

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1) Menyiapkan alat : Alat perekam

2). Menanyakan pertanyaan terbuka

a. Menanyakan mengapa klien phobia saat dihadapkan pada hewan yang menempel didinding?

b. Bagaimana perasaan Anda ketika di depan Anda ada hewan yang biasa menempel didinding?

c. Apa yang akan Anda lakukan jika dihadapkan pada hewan yang menempel didinding?

5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat

6. Action who gets benefit :

1). Klien (Mulai merasa gelisah ketika diberikan pertanyaan tentang hewan yang menempel pada dinding)

2). Terapis (Mendapatkan informasi lebih banyak)

C.

C. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre Conditional : Menggali informasi klien

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps : Diberikan terapi floading.

5. Post Condition : Pelaksanaan terapis

6. Action who gets benefit : Terapis

D.

D. 1. Case Name : Pelaksanaan Terapis

2. Pre Conditional : Memilih terapi yang tepat

3. Action With Initiate : Klien

4. Steps :

1). Klien duduk diruangan yang sama dengan terapis

2). Dihadirkan objek yang ditakuti pada klien

3). Objek diberikan pada waktu yang cukup lama

4). Kecemasan klien akan langsung meningkat dan menurun secara perlahan

5) Klien bisa merasa tenang untuk menghadapi objek yang dia takuti.

5. Post Condition : Controling

6. Action who gets benefit : Klien (kecemasan langsung meningkat dan menurun)

E.

E. 1. Case Name : Controling

2. Pre Conditional : Pelaksanaan Terapis

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). terapis melihat tahap-tahap kecemasan pada diri klien saat dihadapkan pada objek yang dia takuti

2). Jika klien menunjukan reaksi kepanikan yang berlebihan

3) Terapis akan menyingkirkan objek yang ditakuti klien untuk sementara

4). Membiarkan klien tenang dulu

5. Post Condition : Evaluasi

6. Action who gets benefit : Klien (mendapatkan ketenangan setelah dihadapkan pada objek yang ditakuti)

F.

F. 1. Case Name : Evaluasi

2. Pre Conditional : Controling

3. Action With Initiate : Terapi

4. Steps :

1). Pemberian terapi berakhir

2). terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis

3). Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lagi dengan mengulanginya

5. Post Condition : -

6. Action who gets benefit : Terapis

Kasus 2

-Stres menghadapi Tahap Dewasa Awal-

A.

A. 1. Case Name : Pendekatan (Rapport)

2. Pre Conditional : -

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Menyapa Klien :

a. Memberi ucapan salam (Selamat Pagi/siang/sore)

b. Bersalaman

c. Menanyakan kabar

2) Menanyakan data diri subjek :

a. Siapa nama Anda?

b. Dimana Anda tinggal?

c. Dengan siapa Anda tinggal saat ini?

d. Anda anak keberapa dari berapa saudara?

e. Apa pekerjaan Anda sehari-hari?

f. Apa hobi Anda?

g. Bagaimana hubungan Anda dengan keluarga?

h. Bagaimana kehidupan Anda dengan teman-teman?

i. Apa aktivitas Anda sehari-hari?

j. Apakah Anda senang dengan aktivitas yang Anda lakukan setiap hari?

k. Apa hambatan yang sering Anda alami?

l. Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi hambatan yang mengganggu keseharian Anda?

5. Post Condition : Menggali informasi klien

6. Action who gets benefit :

1). Klien (mendapatkan kenyamanan)

2) Terapis ( mendapatkan gambaran awal)

B.

B. 1. Case Name : Menggali informasi klien

2. Pre Conditional : Pendekatan

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1) Menyiapkan alat : Alat perekam

2). Menanyakan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek cemas dalam menghadapi tahap dewasa awal?

5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat

6. Action who gets benefit : Terapis (Mendapatkan informasi lebih lanjut)

C.

C. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre Conditional : Menggali informasi klien

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps : Terapis menggunakan terapi Analisis mimpi

5. Post Condition : Pelaksanaan terapis

6. Action who gets benefit : Terapis

D.

D. 1. Case Name : Pelaksanaan Terapis

2. Pre Conditional : Memilih terapi yang tepat

3. Action With Initiate : Klien

4. Steps :

1). Klien diminta untuk berbaring dan tidur selama beberapa waktu

2). Klien bangun dan terapis meminta klien untuk menceritakan mimpinya tersebut pada terapis

3). Terapis mencatat dan merekam semua cerita klien

5. Post Condition : Controling

6. Action who gets benefit :

1). Klien

2). Terapis

E.

E. 1. Case Name : Controling

2. Pre Conditional : Pelaksanaan Terapis

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Terapis mencatat informasi-informasi yang diberikan oleh klien

2). Terapi mencatat informasi apa yang diberikan subjek secara berulang-ulang

5. Post Condition : Evaluasi

6. Action who gets benefit : Terapis (mengetahui lebih menekankan pada informasi yang berulang-ulang)


F.

F. 1. Case Name : Evaluasi

2. Pre Conditional : Controling

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Pemberian terapi berakhir

2). Terapis melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah diperoleh oleh terapis

3). Perubahan terjadi pada pertemuan-pertemuan berikutnya

4). Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain

5. Post Condition : -

6. Action who gets benefit : Terapis

Kasus 3

-Obsesif Compulsif-

Seorang mahasiswi yang mengalami kecemasan saat mengecek tugas akhirnya berulang-ulang secara berlebihan.

A.

A. 1. Case Name : Pendekatan (Rapport)

2. Pre Conditional : -

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Menyapa Klien :

a. Memberi ucapan salam (Selamat Pagi/siang/sore)

b. Bersalaman

c. Menanyakan kabar

2) Menanyakan data diri subjek :

a. Siapa nama Anda?

b. Dimana Anda tinggal?

c. Dengan siapa Anda tinggal saat ini?

d. Anda anak keberapa dari berapa saudara?

e. Apa pekerjaan Anda sehari-hari?

f. Apa aktivitas Anda sehari-hari?

g. Apakah Anda senang dengan aktivitas yang Anda lakukan setiap hari?

h. Apa hambatan yang sering Anda alami?

i. Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi hambatan yang mengganggu keseharian Anda?

5. Post Condition : Menggali informasi klien

6. Action who gets benefit :

1). Klien (mendapatkan kenyamanan)

2) Terapis ( mendapatkan gambaran awal)


B.

B. 1. Case Name : Menggali informasi klien

2. Pre Conditional : Pendekatan

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1) Menyiapkan alat : Alat perekam

2). Menanyakan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek cemas dalam mengecek tugas akhirnya? Sehingga klien kerap kali mengecek tugas akhirnya hingga berulang-ulang kal?

5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat

6. Action who gets benefit : Terapis (Mempunyai informasi lebih lanjut)

C.

C. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre Conditional : Menggali informasi klien

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps : Memberikan terapi kognitif atau relaksasi

5. Post Condition : Pelaksanaan terapis

6. Action who gets benefit : Klien (supaya klien merasa ketenangan)

D.

D. 1. Case Name : Pelaksanaan Terapis

2. Pre Conditional : Memilih terapi yang tepat

3. Action With Initiate : Klien

4. Steps :

1). Dilaksanakan dengan cara mengubah mind set pada pikiran klien

2). Terapis bisa memberikan sugesti-sugesti pada klien agar pola pikirnya dapat berubah

3). Dari pola pikir tersebut, terapis dapat melihat pengaruh yang dihasilkan melalui perilaku yang tampak

3). Klien merasa bebas bercerita

5. Post Condition : Controling

6. Action who gets benefit : Klien (merasa nyaman bercerita)

E.

E. 1. Case Name : Controling

2. Pre Conditional : Pelaksanaan Terapis

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Terapis mengobservasi prilaku klien

2). Sugesti yang diberikan terapis bisa berulang-ulang tergantung dari respon yang diberikan klien setelah pemberian sugesti tersebut

5. Post Condition : Evaluasi

6. Action who gets benefit : Terapis (melihat batasan)

F.

F. 1. Case Name : Evaluasi

2. Pre Conditional : Controling

3. Action With Initiate : Terapis

4. Steps :

1). Pemberian terapi berakhir

2). Jika klien belum menunjukan suatu perubahan sebagai hasil dari terapi yang telah dijalani, maka terapis dapat diulangi lagi dengan terapi yang sama

5. Post Condition : -

6. Action who gets benefit : Terapis

Selasa, 05 April 2011

PEMETAAN BISNIS PROSES KEDALAM DESAIN AWAL SISTEM INFORMASI

1. Phobia Hewan yang biasa menempel di dinding (Salah satunya cecak)
a. Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini disertai juga dengan memecah kekakuan dengan bersalaman, memperkenalkan diri terapis dengan subjek. menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
b. Menggali informasi subjek
Setelah klien merasa santai dengan keberadaan terapis, lalu dimulailah penggalian masalah dalam diri klien. Terapis juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek phobia saat dihadapkan pada hewan yang menempel didinding. Informasi yang diberikan subjek akan direkam menggunakan alat perekam, salah satu contoh pertanyaanya, “bagaimana perasaan Anda ketika di depan Anda ada hewan yang biasa menempel didinding, apa yang akan Anda lakukan?” serta dilihat perilakunya guna observasi yang dilakukan terapis.
c. Memilih terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang diberikan klien tentang ketakutannya pada hewan yang menempel didinding, maka klien dapat diberikan terapi floading.
d. Pelaksanaan terapi
Terapis memutuhkan ruangan yang nyaman. Klien diminta untuk duduk diruangan yang sama dengan terapis dengan dihadirkan objek yang ditakuti, dalam kasus ini yaitu hewan yang menempel pada dinding (berikanlah cecak) untuk periode waktu yang cukup lama. Saat itu juga kecemasan subjek akan langsung meningkat dan menurun secara perlahan sampai akhirnya klien bisa merasa tenang untuk menghadapi objek yang dia takuti.
e. Controlling
Dilakukan saat terapi diberikan, terapis melihat tahap-tahap kecemasan pada diri klien saat dihadapkan pada objek yang dia takuti. Karena terapi dilakukan pada periode waktu yang lama, jika klien menunjukan reaksi kepanikan yang berlebihan maka terapis akan menyingkirkan objek yang ditakuti klien untuk sementara, membiarkan subjek tenang dulu kemudian akan menghadapkan klien pada objek yang sama. Hal ini dilakukan agar klien dapat imun terhadap objek yang ditakuti
f. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.

2. Stres menghadapi Tahap Dewasa Awal
a. Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini disertai juga dengan memecah kekakuan dengan bersalaman, memperkenalkan diri terapis dengan subjek. menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
b. Menggali informasi subjek
Setelah klien merasa santai dengan keberadaan terapis, lalu dimulailah penggalian masalah dalam diri klien. Terapis juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek cemas dalam menghadapi tahap dewasa awal? Informasi yang diberikan subjek akan direkam menggunakan alat perekam, serta dilihat perilakunya guna observasi yang dilakukan terapis. Jika informasi subjek tidak dapat ditemukan hasilnya maka langsung memilih terapi yang tepat.
c. Memilih terapi yang tepat
Dikarenakan informasi yang diharapkan tidak dapat membantu banyak maka terapis menggunakan terapi Analisis mimpi, hal ini dapat berguna untuk mengetahuan lebih bnayk kenapa subjek mempunyai kecemasan akan masa dewasa awalnya.
d. Pelaksanaan terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman. Klien diminta untuk berbaring dan tidur selama beberapa waktu. Lalu klien bangun dan terapis meminta klien untuk menceritakan mimpinya tersebut pada terapis. Sedangkan terapis mencatat dan merekam semua cerita klien.
e. Controlling
Dilakukan saat tahap terapi berlangsung, terapis mencatat informasi-informasi yang diberikan oleh klien. Terapi juga mencatat informasi apa yang diberikan subjek secara berulang-ulang.
f. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah diperoleh oleh terapis. Umumnya perubahan terjadi pada pertemuan-pertemuan berikutnya, jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.

3. Obsesif Compulsif
Seorang mahasiswi yang mengalami kecemasan saat mengecek tugas akhirnya berulang-ulang secara berlebihan.
a. Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini disertai juga dengan memecah kekakuan dengan bersalaman, memperkenalkan diri terapis dengan subjek. menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
b. Menggali informasi subjek
Setelah klien merasa santai dengan keberadaan terapis, lalu dimulailah penggalian masalah dalam diri klien. Terapis juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek cemas dalam mengecek tugas akhirnya? Sehingga klien kerap kali mengecek tugas akhirnya hingga berulang-ulang kali Informasi yang diberikan subjek akan direkam menggunakan alat perekam, serta dilihat perilakunya guna observasi yang dilakukan terapis.
c. Memilih terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang telah diberikan oleh klien mengenai keluhannya, terapi dapat memberikan terapi kognitif atau relaksasi. Pada kasus ini terapis menggunakan terapi kognirtif.
d. Pelaksanaan terapi
Terapi kognitif dilaksanakan dengan cara mengubah mind set pada pikiran klien. Terapis bisa memberikan sugesti-sugesti pada klien agar pola pikirnya dapat berubah. Dari pola pikir tersebut, terapis dapat melihat pengaruh yang dihasilkan memlalui prilaku yang tampak kemudian pada diri klien tersebut.
e. Controlling
Dilakukan saat tahap terapi berlangsung, terapis mengobservasi prilaku klien. Sugesti yang diberikan terapis bisa berulang-ulang tergantung dari respon yang diberikan klien setelah pemberian sugesti tersebut.
f. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir. Jika klien belum menunjukan suatu perubahan sebagai hasil dari terapi yang telah dijalani, maka terapis dapat diulangi lagi dengan terapi yang sama.